Tuhan,
Apakah bangsa ini memang pantas kau limpahi azab dan
cobaan tanpa henti
Apakah bangsa ini memang sudah lama berpaling darimu
dan penuh dengki
Mengapa korban terbanyak adalah kami yang tak berpunya
dan merana
Mengapa korban selalu saja rakyat yang tak berkuasa
dan tak berdosa
Pemimpin,
Setelah kau ku pilih tak pernah lagi merealisasikan
janji
Saat ku membutuhkanmu kau tak pernah mau peduli
Ketika kami hanya berharap padamu, dirimu laksana besi
jeruji
Kesangsian salah memilihmu hilang saat 5 tahun lagi
kembali kau berlagak suci
Dewan,
Kalian berlagak sebagai penyelamat namun ternyata
hewan
Kami kau wakili berlagak teman ternyata untuk kolusi
menikmati korupsi
Meski kami selalu kau selingkuhi dan sakiti tak pernah
sedikit berani kami melawan
Memaafkan diri kami sendiri salah mempercayai dianggap
sebagai langkah terpuji
Peradilan,
Rasa cemas melihat berbagai kasus kau masukkan di peti
kemas
Tanpa sekalipun daku melihat keadilan telah ditegakkan
Ragam kepalsuan kau tampilkan agar tampak beres
Tapi kebusukan tubuh dan hatimu telah kau
kembangbiakkan
Preman,
Sudah kau tunjukkan bahwa kau memang berani dan
memiliki nyali
Mewakili ikatan primordialis, agamis, seksis, rasis,
dan memang fasis
Siapa saja yang memiliki nurani kau habisi dengan
dalil illahi
Melindungi yang membeli, menjadi milisi dan antek
militerisi berlagak polisi
Pengaman,
Diriku selalu ingin bertanya pada dirimu yang tegap
dan bersenjata lengkap
Kegiatan bisnis, berpolitik, membuat konflik dan
melanggar HAM dianggap sebagai peran
Darimu aku menduga banyak darah tumpah dalam sejarah
yang tak terungkap
Kendati kerap saja kalian menganggap berasal dari
rakyat dan menghabisi yang melawan
Agamawan,
Kalian hamba Tuhan yang kami segani
Kumpulan merpati yang suka peduli pada kami
Tetapi merasa ikut memecahkan masalah dengan tampil di
tivi
Tentu juga suka mendekatkan diri dengan penguasa dan
jadi alat pelegitimasi
Pemodal Global tanpa akhiran -an,
Tak pernah ku duga badanmu begitu menggurita
Tak juga ku sangka tentakelmu mampu menghisap jiwa
manusia
Seluruh budaya dan nafas alam ini telah kau rasuki
gayamu melalui nilai-nilai
Semua kehidupan sudah kau kuasai dan kami pun
mempercayai
Teman,
Apakah memang hidup ini tidak adil sekali dan penuh
kreasi basi
Apakah keserakahan dan nafsu amarah menjadi prioritas
tertinggi
Mengapa penghisapan, penindasan dan eksploitasi
dianggap ekspresi manusiawi
Mengapa akhirnya kami hanya menjadi kuli di negeri
sendiri
Kawan,
Bangsa ini katanya sabar walau menderita penyakit
sektarian yang parah dan kronis
Nusantara ini sumber dayanya kau biarkan dirampas
tanpa kompensasi dan sudah mulai habis
Keberagaman kami ditelan sadis budaya kapitalis dan
sudah terkikis
Kebersamaan dan toleransi tak lagi digubris oleh ciri
individualistis, kami pun akhirnya jadi pengemis
saya adalah hewan seperti setan yang tak berperasaan
Tak mampu berdamai dengan sejarah
Hanya memperkaya perspektif bagi anak cucu serta masa
depan
Saat negara menghindari tanggung jawab











